Atasi Gizi Buruk Sejak Masa Kehamilan

Sulawesi Selatan dikenal sebagai lumbung beras. Tanah yang subur dengan potensi pertanian yang cukup besar. Sayangnya, berita memiriskan tentang anak gizi buruk hingga berujung maut kerap terdengar. Kasus gizi buruk seolah tak juga menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah maupun masyarakat akan pentingnya persoalan kesehatan, khususnya masalah gizi. sudah banyak program dari Dinas Kesehatan namun masalah gizi kerap muncul dan menelan korban anak-anak. Di mana letak masalah gizi buruk sebenarnya? Malah efektifkah program yang diluncurkan Dinas Kesehatan dalam mengatasi gizi buruk? Berikut wawancara Fajar Anggi S. Ugart dengan guru besar Ilmu Gizi Unhas sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Sulsel, Prof. dr. Veni Hadju, PhD di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, pekan lalu.

Gizi buruk adalah masalah lama yang hingga saat ini belum tuntas. Padahal program pemerintah untuk itu juga sudah ada. Dimana letak masalah sebenarnya?
Selama ini, program penanganan gizi buruk hanya ditujukan kepada anak yang sudah gizi buruk. Kalau seperti itu kan, sudah terlambat penanganannya karena kondisi mereka sudah sakit. Memang, program pemerintah yang ideal sebenarnya adalah seperti posyandu. Dimana setiap bulan datang ke posyandu, dan ditimbang berat badannya sehingga dapat dipantau tumbuh kembangnya. Tujuannya, untuk mencegah anak gizi buruk. Jika anak dibawa ke posyandu maka berat badannya dapat diplot di Kartu Menuju Sehat (KMS), sehingga akan ketahuan anak yang sehat dan tidak. Anak yang sehat, selalu bertambah beratnya. Ketika anak berkurang sehatnya, itu harus dipertanyakan kenapa demikian. Apakah dia sakit atau selama ini nafsu makannya berkurang atau ibunya tidak bisa memberi makan cukup. Dari situ bisa terlihat, apalagi kalau penurunan itu sudah tiga kali terjadi, maka harus dicurigai. Sekarang, program ini kan tidak berjalan baik. Atau jalan tapi tidak meng-cover seluruh anak balita yang ada di daerah posyandu berada. Misalnya, dari 100 orang yang datang cuma 50 anak.

Jadi bisa dikatakan program pemerintah kurang tersosialisasikan?
Betul. Apalagi sekarang, pendanaan posyandu bergantung di pemda. Kalau kabupaten punya program positif seperti di Lumajang dan Jembrana di Bali, bupati dan istrinya aktif. Baru-baru saya dari Gorontalo, mereka aktif sampai ke dusun dengan adanya dasa wisma. Dasa wisma adalah dalam setiap 10 rumah tangga, ada satu kader. sehingga kondisi mereka selalu dipantau apalagi jika ada anak gizi buruk. Program penanggulangan untuk pencegahan sudah ada, tapi tidak dapat dilaksanakan dengan baik juga banyak kendalanya. Dulu kan gerakan nasional, sekarang tidak. Orang juga dulu mau bekerja secara volunter, sekarang mereka minta dibayar. Ada kabupaten yang menggaji kadernya sampai Rp 150 ribu per bulan.

Termasuk pada kasus Besse, masyarakat menilai bahwa itu adalah kesalahan dan tanggung jawab pemerintah. Tanggapan Anda??
Sebenarnya, secara mutlak memang begitu. Tapi kita juga tidak bisa menyepelekan keterbatasan pemerintah, sehingga saya selalu katakan bahwa partisipasi masyarakat juga harus ada. Jadi, pemerintah harus memberdayakan masyarakat untuk melakukan upaya preventif, yang selama ini diwujudkan dalam bentuk posyandu. Tapi kan memang agak sulit, kadang kita agak mudah di suatu desa dapatkan posyandu yang berkinerja bagus. Di lain pihak, banyak juga desa yang masa bodoh.

Selain posyandu, apakah program dasa wisma di Gorontalo juga bisa diterapkan di daerah ini?
Lagi-lagi kembali kepada keinginan pemerintah daerah setempat. Kalau menjadikan itu program unggulan dan mau fokus maka bisa diterapkan. Tapi kalau pemerintah sibuk dan hanya sekadar program, hanya seperti seremonial saja. Pada kasus gizi buruk yang saya lihat kebanyakan adalah pada saat lahir, anak sudah kurang beratnya atau BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) atau kurang gizi. Ini disebabkan antara lain karena saat si bayi dalam kandungan ibunya tidak tumbuh dengan baik. Ini disebabkan karena gizi ibu hamil kurang, ibu banyak pekerjaan sehingga kurang istirahat. Konsekuensi anak yang lahir dengan berat badan rendah adalah daya tahan tubuhnya rendah. Apalagi jika tinggal di tempat yang lingkungan tidak sehat, atau asupan makanan terbatas karena miskin. Maka hal ini memungkinkan anak mudah terinfeksi dan terkena penyakit seperti diare, ISPA, asma, dan penyakit lainnya karena daya tahan tubuh anak lemah.

Bisa Anda jabarkan seperti apa pola itu?
Di beberapa kabupaten sudah ada seperti itu. Cara sederhananya kan ada kader yang mendata semua ibu hamil. Dalam kegiatan posyandu, sebenarnya sudah ada hal itu. Tapi dalam kenyataannya, tidak seperti itu. Yang ada hanya penimbangan balita. Padahal, kunjungan ibu hamil juga ada.

Seperti apa upaya pencegahan gizi buruk?
Sekarang sudah ada tenaga gizi pendamping di daerah terpencil dan miskin. Idealnya, semua desa terpencil ada tenaga gizi pendamping, tapi karena keterbatasan dana, sehingga sulit semua terwujud. Di beberapa daerah di Sulsel, sudah ada juga. Tujuannya, memonitor kondisi ibu hamil dan bagaimana seharusnya konsumsi makan mereka, juga pantau kesehatan anak.

Dari kacamata Anda, bagaimana kinerja Dinas Kesehatan menangani masalah gizi buruk dan ibu hamil di daerah ini?
Kalau bicara masalah dinas kesehatan, programnya kan meluas. Yang dia bisa lakukan adalah hal-hal yang besar. Lagipula sudah ada program yang sudah digariskan dari pusat. Program penelusuran atau pemberian makanan tambahan gizi buruk juga ada. Tapi secara detail, di setiap kabupaten mestinya harus diperhatikan oleh pemerintah setempat. Jadi, harus ada porsi yang diberikan dinas kesehatan provinsi kepada daerah untuk fokus pada pemantauan gizi ibu hamil, yang memang selama ini belum ada contohnya. Kalau mereka buat program seperti itu, itu kan program inovasi. Jadi harus perjuangkan di dewan.

Bagaimana bentuk pelibatan masyarakat?
Sebenarnya posyandu kan program yang diinisiatif oleh masyarakat. Idealnya sebulan sekali mereka duduk bersama melihat laporan yang masuk. Misalnya, penimbangan anak-anak meningkat atau ada yang menurun. Lalu penyebabnya dicari dan memberi solusi.

Saran dan solusi Anda dalam mencegah dan penanganan kasus gizi buruk?
Semua pihak harus aware dan konsen dengan masalah ini. Apalagi ketahui bahwa masalah gizi terkait dengan sumber daya manusia (SDM). Dan itu terkait dengan generasi kita kedepan. Jadi, semua lintas sektoral harus konsen. (sakarimba@yahoo.com).

About these ads

~ by bohkasim on October 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: